$type=carousel$cols=3$show=home

Rasionalisme dan Romantisme Islam Pasca Mu'tazilah

Penulis: Frans al Rifai (Sejarawan Garmuba) dan Haidar Ch Widodo (Penyuka Teologi) Menyimak opini tulisan Hamdan Suhaemi tentang ...

Penulis:
Frans al Rifai (Sejarawan Garmuba)
dan Haidar Ch Widodo (Penyuka Teologi)

Menyimak opini tulisan Hamdan Suhaemi tentang mempertanyakan apa itu ajaran ahlusunnah, ada baiknya saya berdua memiliki pandangan yang berbeda dengan beliau. Disini kami melihat, perbedaan pandangan dalam Islam itu sebagai sesuatu yang wajar dan keharusan, karena dari sisi ilmu Teologi Islam akan semakin tergali secara ilmiah.

Dalam tulisan Hamdan Suhaimi, kami membaca ada paradoks tekstual yang subyektif, karena madzhab ahlusunnah dipandangnya hanya dari satu sudut pemikiran mu'tazilah yang agak ekstrem saja. Padahal kalau merunut pada kontemplasi dialektika pada saat itu, justru ulama-ulama Islam tengah berburu mencari nash yang hakiki dan tidak nyleneh dari ajaran Islam yang sesungguhnya.

Berbicara soal paparan kajian agama, khususnya Islam akan selalu sarat dengan penomena dialektika, kadang harus berbenturan antara rasionalitas dengan kepastian tekstual, antara taqlid dengan teks. Namun, itu tentunya akan bermuara pada khasanah penggalian ilmu agama yang lebih matang dan lebih referentif, disana banyak pertimbangan hasil kajian yang bisa memperluas wawasan beragama.

Pada perkembangan awal Islam, memang banyak sekali konflik-konflik terjadi. Konflik pertama adalah konflik kekuasaan antara Syi'ah dan Bani Umayyah. Secara singkat konflik ini bermuatan konflik antara Bani Hasyim / Bani Mutholib dengan Bani Umayyah---yang sebetulnya gesekan politik telah terjadi pada masa pra Islam. Namun implikasi konflik ini, Bani Umayyah melahirkan paham kekuasaan dengan mendompleng agama. Sedangkan Syi'ah melahirkan ajaran khas Islam, yang menitik-beratkan kepada kedudukan ahlul bait dalam agama, sebagai yang ditakjimi. Ini adalah konflik tertua dalam sejarah Islam. Sifatnya dialektis yang bersifat negasi. Dan pada posisi ini, lahir golongan ketiga yang netral yakni Murji'ah --- yang berpegang kepada penangguhan kebenaran atas semua prinsip-prinsip yang dianut manusia dan Murji'ah tidak mau terlibat di dalam kancah kekuasaan (politik).

Lalu, anti-tesa lain ialah lahirnya Khawarij, yakni dari sekelompok pasukan Ali bin Abi Thalib Ra. Mereka menyalahkan keputusan Ali bin Abi Thalib Ra, ketika memaafkan Mu'awiyah bin Abu Sofyan, karena tidak membunuhnya ketika Mu'awiyah telah kalah berperang. Sebab Khawarij menilai pernyataan menyerah dari Mu'awiyah dengan mengibarkan panji putih dinilai tipu muslihat belaka. Jadi fase awal ini lahir empat kelompok yang bertikai.

Dalam ruang lain dan sebetulnya tidak ada hubungan dengan perihal peristiwa-peristiwa tersebut, lahir pula paham Qadariyah dan Jabbariyah. Ini bisa dinilai murni dialektika pemikiran dalam ilmu kalam (teologi atau tauhid). Qadariyah berpandangan, bahwa manusia menentukan dirinya sendiri dan tidak ada takdir melainkan apa-apa yang diusahakan oleh manusia itu sendiri sebagai takdirnya. Sedangkan Jabbariyah berpandangan bahwa Allah dengan keperkasaan-Nya, Maha Kuasa menentukan seratus persen takdir manusia. Manusia dipandang sebagai wayang dan Allah adalah dalang. Dalam pandangan lain, paham ini diprediksi lahir karena kaum Arab Jahiliyah yang hidup di Gurun Pasir yang tandus sehingga membuat hidup mereka pasrah kepada alam dan Tuhan. Mereka tidak kuasa mengubah takdir. Hari demi hari, harus mengalami hidup seperti itu dan tidak ada perubahan.

Fase selanjutnya, ialah lahirnya Mu'tazilah yakni diyakini paham rasionalisme Islam, yang dipelopori Washil bin Atho'. Washil bin Atho' ini adalah murid seoranh Syekh Agung, yakni Syekh Hasan Basri. Syekh Hasan Basri sendiri adalah pengikut Sayyidina Ali RA. Dia dilahirkan dari pasangan budak milik salah satu istri Rasulullah. Namun, pada suatu saat Washil bin Atho' berbeda pandangan dengan gurunya, soal kedudukan manusia yang berdosa. Washil bin Atho' berpandangan, bahwa seorang yang berdosa besar tidak masuk kepada muslim atau pun kafir. Maka keluarlah istilah al Manzilah bain al manzilah taini (posisi diantara dua posisi).

Banyak doktrin yang kontroversial dan bertentangan dengan pemahaman ulama dan umat pada saat itu, diantara Al Quran adalah makhluk dan sesungguhnya Al Quran adalah akal. Karena perbedaan waktu yang sangat panjang, sebetulnya sulit memahami apa yang dimaksud oleh Mu'tazilah dengan kedua hal tersebut. Tetapi, kontroversi alam dipahami sebagai reaksi luar atas statemen-statemen mu'tazilah, yang dipandang dari sisi luar sebagai suatu isu saja.

Namun demikian perhelatan atas Mu'tazilah terus didalami oleh para teolog pada saat ini. Banyak yang beranggapan bahwa Mu'tazilah adalah Neo Qadariyah karena pandangan akal. Padahal Qadariyah tidak berhubungan dengan soal rasionalisme atau cara pandang akal atas agama. Pada sisi lain, kita menemukan bahwa Mu'tazilah adalah menganut paham Jabbariyah soal takdir, ini bisa dipahami dari dialog Al Jubba'i ---ulama Jabbariyah yang masyhur saat itu dengan Abu Hasan al Asy'ari. Abu Hasan Al Asy'ari itu kelak menjadi pendiri paham Ahlus Sunnah wal Jama'ah.

Perdebatan Abu Hasan saat itu dengan gurunya Al Jibba'i ialah pada tema kedudukan antara orang beriman, orang kafir dan orang yang meninggal pada saat bayi. Al Jubbai menjawab, bahwa ketika orang beriman dimasukan di surga, orang kafir masuk neraka dan yang meninggal pada saat bayi terlepas dari api neraka.

Lalu ketika Abu Hasan Al Asyari bertanya kembali, bagaimana apabila bayi menuntut kenapa dia meninggal saat bayi, sedangkan seandainya dirinya dibiarkan hidup oleh Allah, bahwa niscaya dia akan bisa beramal saleh seperti orang beriman. Al Jubba'i menjawab, bahwa Allah lebih mengetahui akan hal itu. Al Asy'ari mengejar jawaban itu dengan pertanyaan, bagaimana seandainya orang kafir bertanya, apabila Allah mengetahui dirinya akan masuk neraka, lalu mengapa Allah membiarkan dirinya hidup dan tidak mencabut nyawanya sewaktu bayi.

Dialog tersebut terkesan ada dikotomis. Satu sisi, memang Mu'tazilah selalu mencoba mencari suatu jawaban dengan akal dan satu sisi dengan dia mengatakan Allah Maha mengetahui, dan oleh  karennya bayi diambil nyawanya sebelum dia beranjak besar dan kelak akan menjadi kafir, maka ini sebetulnya statmen golongan Jabbariyah.

Dikotomi lainnya, adalah dia menolak kedudukan antara dua posisi yang tidak jelas, dimana ada entitas selain Allah dan selain makhluk. Jadi, Al Quran sebagai kalamullah harus ditegaskan posisinya. Apakah dia Allah, apakah dia makhluk, maka Mu'tazilah menegaskan bahwa Al Quran adalah makhluk. Pada ruang yang lain, dia menegaskan posisi orang berdosa besar berada pada Al Manzilah Bain Al Manzilah Taini (posisi diantara dua posisi). Hanya, perbedaannya ini pada posisi dosa sedangkan yang dia tolak adalah Ilahiyah Al Quran, memang bukan entitas Tuhan dan bukan makhluk, namun dia adalah bagian dari diri Allah sebagai kalam atau firman-Nya.

Jelaslah, bahwa Mu'tazilah adalah paham rasionalis dalam Islam. Kendati demikian, dia tidak bisa dihubungkan dengan paham rasionalis Islam modernis, belum lagi kita kepada ruang post modernisme. Mu'tazilah pernah tumbuh pada zaman Dinasti Abbasiyah. Kemudian redup dimakan zaman seiring keruntuhan Dinasti Abbasiyah itu sendiri.

Perhelatan demi perhelatan terus berlangsung sepanjang zaman. Namun jangan pula kita keliru, yakni terjebak menghubungkan dialektika ilmu kalam itu, kepada ranah Mazhab yang berorientasi kepada pembenahan hukum agama. Padahal keberadaan mazdhab adalah ranah terpisah dari ilmu kalam. Mazhab, awalnya tidak terlibat dengan aneka konflik-konflik tersebut, bahkan seperti kaum Murji'ah yang mengambil ruang netral. Namun, ketika Al Asyariyah dan Al Maturidiyah sebagai basis ahlul sunnah wal jama'ah banyak dianut ulama sebagai basis pemahaman tauhid ketiga, yang lebih bisa diterima secara aqidah, maka secara berangsur ulama madzhab dan umatnya mengintegrasikan diri kepada ahlus sunnah wal jama'ah, kendati secara kedudukan madzhab lahir lebih tua dari paham ahlus sunnah wal jama'ah itu sendiri.

Lalu bagaimana Mu'tazilah dalam melakukan peribadahan pada saat itu? Sebetulnya mereka tetap mengikuti ahli-ahli hukum, para fuqaha pada saat itu. Jadi, tidak benar juga bahwa Mu'tazilah adalah anti sunnah. Umat mereka tetap terintegrasi kepada ajaran hukum yang dianut oleh ulama fiqih saat itu. Terbukti, sampai saat ini tidak ada fiqih secara khusus yang menjelaskan tentang tata cara beribadahnya kaum mu'tazilah. Tidak seperti Syi'ah yang menganut Fiqih Ja'fariyah atau Wahabi sebagai firqoh termuda yang menganut ghairu mazhab. Jadi, penerapan rasionalitas Mu'tazilah hanya diterapkan kepada ranah ilmu kalam dalam menjelaskan al Qur'an, Qadha, Qadar, Akal dan sebagainya.

Rasionaliame Islam di Abad Ini
Perhelatan Mu'tazilah pada saat ini sudah terhenti dan tidak lagi menjadi tranding topik bagi umat. Justru yang muncul sekarang adalah dialektika mazhab dengan ghairu mazhab (wahabi) berikut sempalan-sempalan kecil lainnya. Temanya beraneka ragam, namun ia besar seperti masih seputar soal tema-tema yang dikemukakan Ibnu Taimiyah dan Muhammad bin Abdul Wahab seputar pemurnian Islam kembali kepada Al Quran dan Sunnah, Bidah, Khurafat dan lain-lain. Sektenya banyak sekali. Begitu juga masih meluasnya paham politik Islam seperti isu khilafah. Namun, ditengah hiruk pikuk modernitas ini, paham kecil lain bermunculan di mulai paham hakikat, sesat dan sebagainya yang mengedepankan tafsir esoterisme (keluar dari teks-teks al Quran).

Rasionalisme Islam pada saat ini tidak lagi sebagaimana mu'tazilah, dengan menafasirkan teks secara bebas. Namun kendati demikian, menurut hemat kami, mu'tazilah tidak menafsirkan secara bebas sebagaimana yang dituduhkan kepadanya, melainkan tafsirnya kepada teks keluar dari pakem-pakem ulama saat itu, yang dipandang jumud. Mu'tazilah kendati mengatakan Akal adalah Al Quran, bukan berarti melepaskan al Quran sebagai keimanan. Sebab, setiap dalil yang diberikan tetap bersandarkan kepada al Quran dengan cara penelaahan berbeda. Dalam hermeneutika disebutkan, bahwa pesan memiliki tiga otoritas, yakni penutur (dalam hal ini Allah yang memberikan wahyu memiliki maksud), teks (memiliki otonomi makna secara teks), dan penafsir (secara bebas memberikan simpulan atas makna teks).

Nah, pada fase ini, diskusi ala Mu'tazilah sudah tidak lagi populer. Rasionalisme agama lebih diarahkan kepada fungsi-fungsi agama secara luas, sebagaimana fungsi agama di dunia dan bukan hanya untuk akhirat. Sebagaimana Nurcholis Madjid sempat memunculkan istilah sekuleritas dan sekulerisme.

Dalam pandangan lain, rasionalisme digunakan untuk memberikan perimbangan pemahaman agama yang semula ekslusif menjadi inklusif atas dinamika dan perkembangan zaman yang begitu progresif. Dalam ruang hukum agama, sebuah konsekuensi apabila pemahaman agama sangat konservatif, perubahan hanya pada furu'iyah (cabang). Namun dalam dimensi agama yang lebih luas, para rasionalis berupa membawa agama agar dipahami seimbang dengan perubahan zaman dan semangat-semangat perubahannya. Namun demikian, bukan berarti tanpa tantangan, sebab perhelatan agama sejak semula rumit, maka diantara segolongan umat tetap berupaya menarik kembali agama ke romantisme masa lalu yang ortodox, dengan Isu Khilafah, hukum Islam, negara Islam dan sebagainya hingga praktik cara-cara teror dan anarki.

Pada ruang mazhab, sebetulnya tetap konsisten mempertahankan tradisi tafsir yang bersandar pada kaidah-kaidah yang telah ditetapkan oleh ulama sebelumnya, sehingga gerak dialektika makna terkontrol dan tidak melampaui batas. Namun, golongan esosteris sebetulnya--salah satu sisi mereka memaksa kembali ke ranah ortodox masa lalu dan di sisi lain mereka menggunakan tafsir bebas ala mu'tazilah--mendekati apa yang kita pahami hermeneutika. Sebab Hermenetika ini digunakan oleh Katholik sebagai ilmu tafsir Injil. Lalu apabila digunakan di dalam Al Quran, tidak ubahnya dengan suatu ciri memaknakan secara bebas makna makna ayat dengan keluar dari pakem makna ulama jumhur atau masyhur, apalagi tingkat ‘Ijma. Sebagaimana kehalalan bom bunuh diri oleh mujahid dari ghairu mazhab merupakan tafsir yang keluar dari pakem ulama secara ijma.

Jadi, tampaknya perhelatan Islam sampai kapan pun tetap rumit dalam memandang agama karena berprinsip kepada perbedaan adalah rahmat. Namun persoalannya bagaimana perbedaan ini berimbas kepada konflik-konflik fisik yang panjang. (*)

COMMENTS

Nama

Abuya Muhtadi,2,Ade Arianto,1,Adi Abdilah,1,Advertorial,3,AKFC Serang,1,Aktifis Menulis,2,Ali Hanafiah,3,Aliyah MA Cigemblong,1,Amin Ma'ruf,1,Andika,1,Anyer,3,APGI BAnten,1,Asep Rahmatullah,1,Badak Banten,2,Balonbup Pandeglang,6,bank banten,1,Bante,1,banten,571,Banten lama,3,Batalyon Mandala Yudha,4,Bawaslu Banten,4,Bayah,2,Berita Kepolisian,492,Bhayangkari Polda Banten,1,BI Banten,1,Bid Kum Polda Banten,3,Bid TIK Polda Banten,1,Biddokkes Polda Banten,7,Bidhum Polda Banten,455,Bidhumas Polda Banten,98,Bidhurim Polda Banten,1,Bidkum Polda Banten,1,bidpropam polda banten,1,Binuangeun,1,BKM Curug,3,BPJS BANTen,1,Brimob Jabar,2,Brimobda Banten,17,bulog tangerang,1,Bus Murni,3,Catatan Redaksi,3,Ciagel kibin,1,Cibobos,1,CIhara Ciparahu,1,Cilangkahan,280,cilegon,46,Cilograng,2,CPNS Lebak,1,Dandim 0602/Serang,2,Dandim 0603/Lebak,2,Danrem 064/Maualana Yusuf,6,Darul ulum paNyaungan,1,Demokrat Banten,1,Desa,1,Desa Kumpay,2,Desa Kuta mekar,1,Desa Kutamekar Pandeglang,1,Desa panyaungan,1,Desa Tobat,1,di,1,Dinas Pertanian dan Peternakan,1,Dindik Kota Serang,1,Dinkes kota serang,3,Dinkop UMKM,2,Dir Reskrimsus Polda Banten,1,Dirbinmas Polda Banten,3,Dirintelkam Polda Banten,1,Dirkrimsus Polda Banten,1,Dirlantas,1,Dirlantas Polda Banten,5,Dirnarkoba Polda Banten,2,Dishub Kota Serang,1,Disparpora Kota Serang,1,Ditbinmas Polda Banten,2,Ditkrimsus Polda banten,1,Ditlantas Polda Banten,15,Ditlantas Polda Lampung,1,Ditlantas Polres Serang Kota,2,Ditnarkoba,1,Ditnarkoba Polda Banten,1,Ditpamobvit Polda Banten,6,Ditpolairud Polada Banten,1,Ditpolairud Polda Banten,5,Ditreskrimum Polda Banten,1,Ditresnarkoba Polda Banten,5,ditsabhara polwan banten,3,Ditsamapta Polda Banten,17,Ditssamapta Polda Banten,4,DJKN Banten,1,DLH Kota Serang,1,Domper Dhuafa,2,DPD KNPI Banten,25,DPP KNPI,21,DPRD Banten,3,DPRD Kab Serang,3,DPRD Kota Serang,6,DtibinmasPolda Banten,2,Ekon,1,Ekonomi,268,Ekonomi Arus Baru,1,Furtasan Nasdem,1,Gas Melon Malingping,1,Gempa Banten2019,5,Gemuk,1,GMNI BAnten,1,Golkar,1,golkar banten,3,GP Ansor Banten,1,Gubernur WH,1,HAMAS,1,Hardi Madu,1,HAri santri,1,hari santri 2018,1,Headline,2,HGN 2018,1,Hikmah,20,HMI,1,Hukrim,725,Hukum,1,Humas Polres Serang,101,Humas Polres Serang Kota,52,HUT 18 Banten,1,Ijtima Ulama GPNF,1,Industri,8,iphone,1,iptek,22,IWO Banten,3,IWO Lebak,1,jOKOWI-mARIF amIN,1,Jubir Pancasila,1,Jurus Silat Kaserangan,1,Kab Lebak,1116,Kab Pandeglang,369,Kab Serang,528,Kab Serang Serang,1,Kab Tangerag,47,Kab Tangerang,190,Kab. Serang,6,Kab. Tangerang,2,Kab.Tangerang,5,Kabupaten Serang,11,Kabupaten Tangerang,29,Kahmi,1,KAHMI BAnten,1,Kalimaya Lebak,1,Kampanye damai,2,Kampus,7,Kantor Kemenag Pandeglang,1,Kanwil Kemenag Banten,41,Kapal Bosok Curug,2,Kapolda Banten,12,Karang Taruna,1,Kasepuhan Karang,1,Kebun teh Cikuya,1,Kec Panggarangan,4,Kec Anyer,2,Kec Banjarsari,3,Kec Baros,2,Kec Bayah,19,Kec Bojonegara,1,Kec Bojongmanik,1,Kec Cihara,10,Kec Cikande,1,Kec Cikesal,1,Kec Cikeusal,1,Kec Cikeusik,2,Kec Cileles,1,Kec Cilograng,2,Kec Cimanggu,1,Kec Cinangka,2,Kec Cipanas,1,Kec Ciruas,1,Kec Curug,4,Kec Gunung Kaler,1,Kec Gunungsari,1,Kec Jatiuwung,1,Kec Kalang Anyar,1,Kec Karangtengah,1,Kec Kasemen,1,Kec Kibin,1,Kec Kopo,1,Kec Koroncong,1,Kec Kragilan,1,Kec Kresek,1,Kec Labuan,1,Kec Leuwidamar,1,Kec Malingping,16,Kec Mancak,2,Kec Mandalawangi,1,Kec Mauk,1,Kec Menes,1,Kec Pabuaran,5,Kec Pamarayan,5,Kec Petir,2,Kec Picung,1,Kec Rangkasbitung,1,Kec Sajira,1,Kec Saketi,1,Kec Sepatan,1,Kec Serang,1,Kec Sobang,2,Kec Sumur,2,Kec Taktakan,3,Kec Tanara,1,Kec Tirtayasa,3,Kec Tunjung Teja,1,Kec Walantaka,3,Kec Wanasalam,3,Kec Warunggunung,2,Kec. Cilograng,1,Kec. Maja,1,Kec. Saketi,1,Kec.Cilograng,1,Kec.Saketi,1,Kecamatan Pontang,1,Kejati Banten,1,Kemenag,13,Kemenag Cilegon,1,Kemenag Kota Serang,22,Kemenag Kota Tangerang,1,Kemenag Lebak,6,Kemenag Pandeglang,1,Kemenag Tangsel,1,kesehatan,96,Keu dan Bank,2,Khazanah,37,Kiprah,49,kirab satu negeri,1,KNPI,4,KNPI Banten,27,KNPI Cilegon,10,KNPI Kab Serang,14,KNPI Kota Cilegon,1,KNPI KOta Serang,36,KNPI Kota Tangerang,1,KNPI Lebak,12,KNPI Pandeglang,14,KNPI Tangerang,10,KNPI Tangsel,7,Kodim 0601/Pandeglang,27,Kodim 0602/Serang,12,Kodim 0603/Lebak,5,Kodim Lebak,4,kodim serang,2,Komunitas Bela Indonesia,2,Koni Kota Serang,1,konomi,1,kopassus,1,Koperasi,2,Koramil 0223/Pontang,1,Koramil 0314/Panggarangan,1,Korem 064/my,68,Kota Cilegon,101,Kota Serang,971,Kota Seranng,1,Kota Tagerang,5,Kota Tangerang,175,Kota Tangerang Tangerang,1,Kota Tangerang Selatan,9,Kota Tangsel,64,Kotas Serang,1,KotaTangerang,5,KP3b,40,KPU KOta Serang,3,Kpud lebak,1,KTP Tercecer,1,Kumala,2,Lampung,3,Lapindo,1,lebak,1141,Lebak Smart Tax,1,legislatif,1,Lingkungan Hidup,1,Lion air,1,lmnd kota serang,1,LMND sERANG,1,lmpi kota serang,1,Madrasah Cigemuk,1,Madrasah DIniyah,1,Madrasah Kota Serang,1,Madu Cingagoler,1,Malingping,1,Menag Lukman,1,menpan RB,1,Mesjid Agung kota Serang,2,Muhamad Ilham,1,NasDem,15,Nasdem Kota Serang,2,Nasdem Lebak,2,nasional,442,Ninja Banten Selatan,1,Nusantara,46,Operasi Mantap Brata Kalimaya 2018,2,opini,45,Pakta Integritas Prabowo,1,PAN Banten,1,pandeglang,221,Pangdam III/Siliwangi,1,Parlemen,85,Partai Bulan Bintang,2,Partai Demokrat,1,Partai Gerindra,5,Partai Golkar,6,Partai Nasdem,2,Partai PKB,1,Pasar,2,Patia,1,PC PMII Lebak,2,PCNU Lebak,1,PDIP Banten,1,Pelabuhan,1,Pelabuhan Bakauheni,4,Pelabuhan Merak,16,Peluang,1,Pemilu2019,1,PemkaB Lebak,6,pemkot cilegon,1,Pemutakhiran mandiri,1,pendidikan,387,Pengusaha Malingping,1,Perbankan,7,Perda Diniyah,1,Persis Banten,1,Persit Korem,1,Perumahan Polda Banten,1,PGMI Cihara,1,Pilbu Serang,1,Pilbup Pandeglang,3,Pilbuptangerang,1,Pilkda Kab Serang2020,1,Pilpres2019,3,PKBM Melati Tigaraksa,1,PKS Banten,7,PMI Banten,1,PMI Malingping,1,PMII KOta Serang,1,PMII UNIBA Kota Serang,1,Polairud Banten,7,Polda Banten,405,Polda Banten Dirkrimsus Polda Banten,1,Polda Baten,1,Polda Lampung,20,Polek Tanahara,1,Polres Cilegon,44,Polres Kab Serang,8,Polres Kota Serang,1,Polres Lebak,61,Polres Metro Tangerang Kota,1,Polres Pandeglang,31,Polres Serang,156,polres serang kota,98,Polres Tangerang,4,Polres Tangsel,1,PolresSerang Kota,2,Polresta Bandarlampung,24,Polresta Serang,5,Polresta Tangerang,47,Polsek Bayah,12,Polsek Carenang,1,Polsek Cikande,2,Polsek Cikeusal,3,Polsek Cikeusik,1,Polsek Cilograng,5,Polsek Cipocok,4,Polsek Ciruas,5,Polsek Curug,2,Polsek Jawilan,1,Polsek Kopo,1,Polsek Kragilan,2,Polsek Kramatwatu,1,Polsek Maja,1,Polsek Malingping,6,Polsek Pabuaran,11,Polsek Pamarayan,1,polsek panggarangan,1,Polsek Patia,1,Polsek Petir,1,Polsek Pontang,2,Polsek Puloampel,1,Polsek Pulomerak,2,Polsek Rangkasbitung,1,Polsek Serang,1,Polsek Serang Kota,1,Polsek Tirtayasa,1,Polsek Walantaka,4,Polsek Walantakan,1,Polwan Polda Banten,1,Polwan Sabhara,1,Pontren Darul ulum,1,Pontren Riyadul Awamil,1,Pospeda,1,PPP Kota Serang,1,Prabowo Sandi,1,PT Mikwang,3,PUPR Banten,1,PWI Banten,2,Pwi Kab Serang,4,PWI Kab Tangerang,1,radiasi,2,Ragam,47,Ranmor,3,Relawan Kemanusiaan Banten,1,Revitalisasi Banten lama,2,Riyadul awamil,1,RSKM Cilegon,1,Sahabat Polisi,1,Samapta Polda Banten,1,Satbrimob Polda Banten,11,Satbrimobda Banten,12,Satlantas Polres Lebak,3,Satlantas Polres Pandeglang,1,Satlantas Polres Serang,5,Satlantas Polres Serang Kota,4,Satpol PP Lebak,1,Satreskrim Polres Pandeglang,2,Satreskrim Polresta Tangerang,1,Satreskrim Resmob Polresta Tangerang,1,Satresnarkoba Polres Cilegon,1,Satresnarkoba Polres Pandeglang,1,Satresnarkoba Polres Serang,4,Satresnarkrim Polres Serang Kota,1,Serang,1159,Serang Banten,48,Serang Hukrim,1,serang.Kota Serang,1,Seranng,1,SMAN 1 CIbadak,1,SMAN 13 Tangerang,1,smartphone,2,SMKN 1 Pulo Ampel,1,SMKN 9 Kota Tangerang.,1,Sorotan,2,Sosok,15,SPN Mandalawangi Kab Pandeglang,1,sRANG,1,STIH Painan,1,STKIP Jawilan,1,STKIP Setia Budi,1,Suara Mahasiswa,95,tagerang,5,tangerang,448,Tangsel,14,TB Amri,1,teknologi,28,Teminal Cipocok,1,Terminal Cipocok,4,tidur,1,TNI,37,TNI-AL,1,TNI-POLRI,73,TPSA Cilowong,2,Tradisi siraman,1,Tsunami Anyer,84,Tsunami Selat Sunda,66,Uhen PPP,2,Ujung Kulon,1,UMKM,69,Unbaja Serang,1,Universitas Pelita Harapan.Christina Florensya Mandagi,1,Unma Banten,3,Unsera,1,Untirta,3,UPH Banten,47,UPH Jakarta,5,VESBanten,1,video,4,Wahidin Halim,1,Wakapolda Banten,2,Wirausaha,22,Wisata,1,Wisata Minat Khusus dan Petualangan,1,Xiaomi,1,Yonif 320/BP,1,
ltr
item
Berita Banten - Banten Ekspose: Rasionalisme dan Romantisme Islam Pasca Mu'tazilah
Rasionalisme dan Romantisme Islam Pasca Mu'tazilah
https://1.bp.blogspot.com/-UoybaayHMRk/XcM4_24xITI/AAAAAAAAUv4/pJDwnywu_L40q8Ubx7uwkEWCHjJBgERAgCLcBGAsYHQ/s1600/mikir.jpg
https://1.bp.blogspot.com/-UoybaayHMRk/XcM4_24xITI/AAAAAAAAUv4/pJDwnywu_L40q8Ubx7uwkEWCHjJBgERAgCLcBGAsYHQ/s72-c/mikir.jpg
Berita Banten - Banten Ekspose
https://www.bantenekspose.com/2019/11/rasionalisme-dan-romantisme-islam-pasca.html
https://www.bantenekspose.com/
https://www.bantenekspose.com/
https://www.bantenekspose.com/2019/11/rasionalisme-dan-romantisme-islam-pasca.html
true
6064287794305037138
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share to a social network STEP 2: Click the link on your social network Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy