$type=carousel$cols=3$show=home

Sebuah Narasi Cerita dari Banyumas, Haruskah Dihakimi?

“Right wing commies Leftist Nazis Point their fingers Rumours linger” (Type O Negative – We Hate Everyone, 1993) Gonjang-ganjin...


“Right wing commies
Leftist Nazis
Point their fingers
Rumours linger”

(Type O Negative – We Hate Everyone, 1993)

Gonjang-ganjing opini pasca Pilpres 2019 berseliweran, seharian penuh di tanggal 18 April 2019, Cebong dan Kampret asyik bermain bersorak saling cari menang. Ditengah momentum Pilpres yang dinilai penuh politik identitas dari kedua kubu, sehari setelahnya muncul sebuah narasi cerita singkat dari Banyumas, Jawa Tengah yang dibingkai dalam sebuah film berdurasi 107 menit dengan judul Kucumbu Tubuh Indahku (Memories of My Body), oleh Garin Nugroho.

Film tersebut menampilkan seniman-seniman ternama, Muhammad Khan (Juno), Raditya Evandra (Juno Kecil), Sujiwo Tejo (guru lengger), Randy Pangalila (Petinju), Teuku Rifnu Wikana (bupati), Whani Darmawan (warok), Quin Dorothea (istri bupati), Endah Laras (Bulik Juno), Mbok Tun (pengurus lengger), Cahwati (pesinden bupati), Fajar Suharno (pakde Juno), Dwi Windarti (guru tari), Anneke Fitriani (asisten istri bupati), dan Rianto (penari) yang juga menjadi latar belakang film tersebut.

Jelasnya film ini dinilai menuai kontroversi, terjadi banyak penolakan dari beberapa pihak. Tidak tanggung-tanggung, penolakan ini diusung oleh pihak aparatur pemerintah langsung – seperti bentuk penolakan secara langsung dari Walikota Depok dan Bupati Garut dengan indikasi yang sama, yaitu LGBT.

Beberapa adegan dinilai menampilkan nuansa LGBT, seperti saat Juno yang disukai oleh petinju, bupati, dan warok. Walaupun pada dasarnya adegan-adegan tersebut dinilai Garin, bukan sebagai esensi dari latar belakang film tersebut.

Walikota Depok Idris Abdul Somad – dilansir dari berita merdeka.com, Sempat Tayang di Bioskop, Wali Kota Depok Larang Film 'Kucumbu Tubuh Indahku', Kamis, 25 April 2019 19:47, ia menilai bahwa film Kucumbu Tubuh Indahku mengandung unsur LGBT dan percintaan sesama jenis. Setelah itu ia mengajukan surat keberatan pada Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) dengan nomor surat : 460/165-huk- DPAPMK tanggal 24 April 2019.

Bupati Garut Rudy Gunawan – dilansir dari berita detik.com, Bupati Larang Penayangan Film 'Kucumbu Tubuh Indahku' di Garut, Senin 29 April 2019, 13:50 WIB – ia menginstruksikan Kadiskominfo Kabupaten Garut untuk mengganti film Kucumbu Tubuh Indahku dengan film yang lainnya. Sama seperti Walikota Depok, Bupati Garut juga menganggap bahwa film ini berindikasi LGBT.

Tanggapan Garin Nugroho Selaku Sutradara Film Kucumbu Tubuh Indahku
Sang sutradara mengamini adanya perbedaan pendapat atas film ciptaannya, ia menganggap itu sebagai dinamika belaka. Menurutnya, film ciptaannya pun layak untuk didiskusikan – namun malah menimbulkan penghakiman hingga munculnya petisi penolakan film Kucumbu Tubuh Indahku kepada KPI. Seperti yang dilansir melalui kanal YouTube detikcom, Blak-blakan Garin Nugroho: Kontroversi Kucumbu Tubuh Indahku, 2 Mei 2019 – Garin mengungkapkan keprihatinannya atas kejadian berupa penghakiman ini.

“Yang saya kritik dan prihatin adalah penghakiman massa yang tidak dengan menonton filmnya,” ungkap Garin sambil mengatur pola gestur tangan kirinya.

Garin mengatakan bahwa dirinya ingin mencari sisi lain untuk film karyanya – ia ingin menggambarkan bahwa polemik feminim dan maskulinitas yang biasanya terjadi dikalangan menengah atas, tapi ini juga terjadi dikalangan menengah kebawah di Indonesia. Tepatnya di Banyumas yang merupakan salah satu pusat keresidenan di Jawa Tengah. Hal ini sebagai indikator jika film karya Garin ini mendapat penghargaan Cultural Diversity Awards 2019.

Walaupun film ini menjadi salah satu bentuk prestasi anak bangsa, ternyata tidak memberikan pengaruh terhadap sebagian khalayak yang menolak eksistensinya. Lantas Garin merasa heran, mengapa film Bohemian Rhapsody yang justru memiliki kesamaan benang merah bisa laku dipasaran – akan tetapi film Kucumbu Tubuh Indahku sulit diterima ditengah khalayak – apalagi ada bentuk petisinya.

“Kita selalu munafik! Bohemian Rhapsody boleh beredar dimana-mana, tapi yang ini malah diboikot,” tegas Garin seolah yang memperjelas argumentasinya dengan gestur ditangannya.

Lagi-lagi ditengah penjelasannya, Garin memaparkan sebuah fenomena konservatisme dan populisme yang terjadi – terutama sehari pasca Pilpres 2019 di mana filmnya ditayangkan. Seakan ia menerangkan tentang skema paranoia yang terjadi ditengah khalayak. Menurutnya, sebagian khalayak terkait itu berani menarik asumsi tanpa sebelumnya menyaksikan film tersebut. Ia pun mengingatkan khalayak untuk melawan ketakutan kolektif ini.

“Mereka hanya dengan informasi tanpa kajian, tanpa melihat film itu – lalu merasa terancam, merasa ketakutan. Itulah ciri dari abad ini yang harus kita lawan,” ajak Garin dengan nada yang agak ditinggikan

Menurutnya, penghakiman massa yang terkesan ekstrim mampu menjadi indikator terjadinya tindakan radikal. Dengan lantang ia katakan bahwa hal ini terjadi pada karya film terbarunya.

“Perasaan terancam kalau menjadi ekstrim, itu menjadi perilaku penghakiman massa yang radikal, itu terjadi pada Kucumbu Tubuh Indahku,” tutupnya.

Fenomena Film “Kucumbu Tubuh Indahku” di Tangerang
Berbarengan dengan tindakan-tindakan pemboikotan film Kucumbu Tubuh Indahku, lantas bagaimanakah Tangerang menanggapi fenomena film tersebut? Secara, Tangerang terkenal dengan Islam dan “santriismenya”.

Belum lama, di tanggal 20 Juni 2019 – salah satu Bioskop Indie, Cinespace yang bertempat di Gading Serpong, Kabupaten Tangerang menayangkan kembali film yang sebelumnya diboikot oleh Walikota Depok dan Bupati Garut. Pihak Cinespace menayangkannya selama empat hari dengan rundown yang berbeda.

Di tanggal 19 Juni 2019, terlihat antusiasme dari audiens yang datang. Secara tempatnya yang bernuansa edgy, cozy, dan cenderung hipster ini mampu memikat para audiens. Belum lagi mereka menyediakan teh dan kopi gratis untuk para audiens – ya, walaupun dibarengi donasi sebesar Rp. 20.000 – murah dan terkesan efisien di kantong mahasiswa.

Tepat pukul 18:30 WIB, film Kucumbu Tubuh Indahku ditayangkan – terbingkai dalam sebuah layar yang minimalis. Sambil menikmati teh dan kopi, audiens terdiam namun begitu antusias saat menyaksikan pembukaan dari film tersebut. Terlihat muka-muka penuh rasa penasaran dari mereka – mungkin saja hal itu muncul karena kabar-kabar pemboikotan itu. Dengan saksama, mereka memperhatikan jalan alur cerita film itu.

“Wooooooooo, wah gila sih. Emang gara-gara ini kayaknya,”

Sebagian dari mereka berbisik-bisik dan bersorak kecil saat muncul beberapa footage yang menampilkan Juno sebagai tokoh utama yang sedang mengenakan pakaian penganten perempuan adat Jawa – berbarengan dengan Sang Petinju yang juga memakai pakaian adat penganten laki-lakinya. Digambarkan dada Juno tertusuk peniti, karena sebelumnya Sang Petinju ingin mempraktekan hal yang sama dengan calon istrinya. Saat darah segar keluar dari dada Juno, dengan sigap Sang Petinju menghisap darah Juno.

“Nah loh, mulai kan… Mulai,”

Makna konotatif muncul dalam susunan kata yang dilontarkan oleh beberapa audiens. Tapi tidak hanya itu – beberapa adegan juga menampilkan sang bupati yang mengelus tangan Juno didepan para pendukungnya. Terlebih juga timbul kecemburuan diam-diam pada bupati terhadap warok yang juga menspesialkan Juno dalam sanggar lengger dan reognya.

Salah seorang audiens bernama Kartika, tetap memperhatikan film dari awal sampai akhir. Bahkan ia pun jarang berkedip dan tak jarang audiens seperti dirinya – ia sama sekali tidak mengeluarkan gadget-nya. Saat dimintai pendapat, ia mengambil sudut pandang berbeda dengan sebagian audiens.

“Lho, gue yakin sih – itu semua muncul karena traumatiknya Juno. Jadi dia semata-mata jadi feminim itu bukan maunya dia, menurut gue itu muncul karena perjuangan batinnya. Kontradiksi dong batinnya Juno. Notabene-nya kan Juno itu penyendiri, hanya saja ia merasa dirangkul dengan lingkungan lengger lanang itu” ujar Kartika saat berbicang sambil menyantap jajanan Pasar Lama, Kota Tangerang.

Ia mengutarakan persepsinya tentang rata-rata orang Indonesia menanggapi sebuah tayangan film.

“Toh, orang Indonesia saat nonton film bertema horor pun Cuma ngincar adegan vulgarnya,” lanjutnya sambil mengunyah hidangan yang disantapnya.

Sudut Pandang Berbeda Muncul dari Intelektual Banten
Mengamini bahwa skema plural masyarakat Tangerang ini tidak jauh dari dominasi ‘santriisme’. Jika dikaitkan, mungkin film ini akan bertendensi untuk diboikot. Setelah tayang, film ini ternyata juga menarik asumsi dari para intelektual – salahsatunya Radjimo S. Wijono, Ketua Masyarakat Sejarahwan Indonesia Cabang Banten – yang telah mengkaji masyarakat Tangerang Raya. Ia menceritakan secara dialektika historis, terlebih ia membawa suasana obrolan ke era Pakubuwono VI dan Pakubuwono VII.

“Dalam Serat Chentini seperti itu sehingga ini menjadi sebuah kemasan seni yang berkembang di masyarakat, jadi hadir ditengah upacara syukuran masyarakat, hasi buminya berhasil. Yang membedakan dari ritual kesuburan lainnya, lengger lanang ini penarinya adalah laki-laki dengan pakaian perempuan,” paparnya sambil menyeruput kopi hitam.

Kajian historis ternyata tidak sampai disitu saja, ternyata ia juga menceritakan tentang dongeng Gerakan September Tiga Puluh (Gestapu) yang berimplikasi terhadap kesenian. Salahsatunya lengger lanang yang hingga saat ini masih diperdebatkan dalam konteks percintaan sesama jenis.

“Sampai pertengahan tahun 60’an, perkembangan seni ini, terutama di Keresidenan Banyumas ini dilarang,” imbuhnya dalam cerita dongeng pergolakan Gestapu.

Selengkapnya dalam dongeng Gestapu, ada beberapa latar kejadian yang ia sebut-sebut sebagai penyebab utama dari terdiskreditkannya lengger lanang. Mulanya dengan tindakan prejudice yang muncul ditengah perkembangan kesenian rakyat.

“Itu karena rezim Orde Baru menganggap bahwa seni-seni rakyat ini terafiliasi Lembaga Kebudayaan Rakyat (LEKRA). Seperti kita ketahui bersama, PKI dituduh sebagai dalang Kudeta September 1965, walaupun belum diketahui siapa pelaku sebenarnya. Zaman Gestapu kesenian-kesenian itu tidak boleh ditampilkan, salahsatunya lengger lanang,” begitulah ia bercerita sambil menghela nafas.

Gambaran-gambaran mengenai Gestapu, hal ini tidak jauh dengan munculnya populisme Islam. Ia juga memunculkan pertanyaan tentang keragaman seperti apa yang dimunculkan?

“Kalau dilihat dari populisme kan yang paling populer itu kan gerakan agama sebagai solusi segala hal,” katanya sambil mengerutkan dahi.

Beberapa hal yang jarang disadari khalayak juga dimunculkan olehnya – yang mulanya berangkat dari pola pikir konservatif dalam sebagian masyarakat Islam. Ia merasa bahwa indikator pemasalahan yang timbul adalah bagaimana bentuk perputaran modal yang terjadi dalam populisme Islam.

“Ini bukan konservatisme dalam sisi agama saja, tapi juga ada arus modal yang berjalan. Jadi dibelakang munculnya populisme Islam, misalnya pergerakan-pergerakan Islam dengan jargon ‘hijrah’, kaffah, dan khilafah – ada arus modal yang bermain disitu,” jelasnya

Salah satu hal yang disayangkan olehnya kenapa hal ini terjadi adalah sifat-sifat kompetitif dalam fenomena konservatisme dan populisme Islam. Menurutnya, salah satu contoh terbesarnya adalah UU No.1 Tahun 1967 tentang penanaman modal asing. Dalam perbicangan yang sedang berlangsung, ia mengutarakan bahwa fenomena yang diwakili produk undang-undang ini merubah skema kehidupan dalam skala besar – mulai dari seni, politik, dan kehidupan yang lain.

Disela-sela perbincangan, matanya terlihat agak lelah dengan sisa kopi yang sudah menuju ampas – dibarengi dengan beberapa pesan, asumsi, dan review-nya terkait film Kucumbu Tubuh Indahku.

“Dengan adanya film ini, saya kira ini menjadi tawaran yang menarik dalam beberapa waktu,” imbuhnya

Dengan lantang ia mengutarakan pendapatnya bahwa film ini tidak berbahaya dan layak menjadi bahan diskusi. Apalagi ditengah banyak pihak yang menganggap film ini membawa nilai-nilai LGBT. Untuk kedua kalinya ia menyatakan bahwa film ini tidak mengandung unsur LGBT. Selebihnya, ia menuturkan bahwa film ini mengandung unsur perjuangan batin seorang seniman. Ia juga menerangkan bahwa ada beberapa unsur utama yang coba ditampilkan oleh Garin tentang pergolakan batin Juno.

“Garin ketika menampilkan sebuah karya itu ada hal yang dia itu mengingat sesuatu dengan cara yang lirih, ada goresan darah disitu. Selalu begitu, ada tragisme – itu bagaimana menceritakan tentang pergulatan batin Juno bisa eksis,” terangnya dengan sedikit tersenyum.

Dalam perbincangan yang berdurasi 21 menit 29 detik ini, di menit ke 19 – tutur kata tegasnya mengarahkan pembahasan ini pada rangkaian kalimat penutup berupa pesan yang diselipkan tanda tanya.

“Juno ini bisa menjadi kaca bagi kita, ia yang punya kelenturan tubuh dalam masyarakat yang sudah plural. Saya kira itu menjadi sesuatu yang menarik, jangan hanya menilai bahwa film itu LGBT – itukan sebatas asumsi. Jadi kalau mau mencari kebenarannya, orang kan bisa berubah hanya ketika setelah melihat film. Kita melihat kelenturan tubuh dan orientasi seksnya Juno semata-mata kita akan berubah?,” tegasnya sambil  menegakkan badannya dan sedikit beranjak dari sandarannya di tembok.

Dengan rasa penuh apresiasi pada film ini, antusiasmenya mengutarakan argumen mencuat untuk kedua kalinya disela-sela perbincangan. Ia menutupnya dengan rasa apresiatif yang tinggi pada karya Garin.

“Ada proses disitu yang sebetulnya ingin ditawarkan oleh Mas Garin. Bagiku film ini patut menjadi tontonan, menjadi bahan belajar kita – masyarakat Indonesia itu sekarang ada dimana sih? Itu saja mengapa film ini patut diapresiasi,” tutupnya, lalu beranjak membawa teko ke dapur untuk nantinya diisi dengan air teh. (Gilang Prabowo)

COMMENTS

BLOGGER: 1

Nama

Abuya Muhtadi,2,Ade Arianto,1,Adi Abdilah,1,Advertorial,3,AKFC Serang,1,Aktifis Menulis,2,Ali Hanafiah,3,Aliyah MA Cigemblong,1,Amin Ma'ruf,1,Andika,1,Anyer,3,APGI BAnten,1,Asep Rahmatullah,1,Badak Banten,2,Balonbup Pandeglang,6,bank banten,1,Bante,1,banten,570,Banten lama,3,Batalyon Mandala Yudha,4,Bawaslu Banten,4,Bayah,2,Berita Kepolisian,492,Bhayangkari Polda Banten,1,BI Banten,1,Bid Kum Polda Banten,3,Bid TIK Polda Banten,1,Biddokkes Polda Banten,7,Bidhum Polda Banten,454,Bidhumas Polda Banten,98,Bidhurim Polda Banten,1,Bidkum Polda Banten,1,bidpropam polda banten,1,Binuangeun,1,BKM Curug,3,BPJS BANTen,1,Brimob Jabar,2,Brimobda Banten,17,bulog tangerang,1,Bus Murni,3,Catatan Redaksi,3,Ciagel kibin,1,Cibobos,1,CIhara Ciparahu,1,Cilangkahan,280,cilegon,46,Cilograng,2,CPNS Lebak,1,Dandim 0602/Serang,2,Dandim 0603/Lebak,2,Danrem 064/Maualana Yusuf,6,Darul ulum paNyaungan,1,Demokrat Banten,1,Desa,1,Desa Kumpay,2,Desa Kuta mekar,1,Desa Kutamekar Pandeglang,1,Desa panyaungan,1,Desa Tobat,1,di,1,Dinas Pertanian dan Peternakan,1,Dindik Kota Serang,1,Dinkes kota serang,3,Dinkop UMKM,2,Dir Reskrimsus Polda Banten,1,Dirbinmas Polda Banten,3,Dirintelkam Polda Banten,1,Dirkrimsus Polda Banten,1,Dirlantas,1,Dirlantas Polda Banten,5,Dirnarkoba Polda Banten,2,Dishub Kota Serang,1,Disparpora Kota Serang,1,Ditbinmas Polda Banten,2,Ditkrimsus Polda banten,1,Ditlantas Polda Banten,15,Ditlantas Polda Lampung,1,Ditlantas Polres Serang Kota,2,Ditnarkoba,1,Ditnarkoba Polda Banten,1,Ditpamobvit Polda Banten,6,Ditpolairud Polada Banten,1,Ditpolairud Polda Banten,5,Ditreskrimum Polda Banten,1,Ditresnarkoba Polda Banten,5,ditsabhara polwan banten,3,Ditsamapta Polda Banten,17,Ditssamapta Polda Banten,4,DJKN Banten,1,DLH Kota Serang,1,Domper Dhuafa,2,DPD KNPI Banten,25,DPP KNPI,21,DPRD Banten,2,DPRD Kab Serang,3,DPRD Kota Serang,6,DtibinmasPolda Banten,2,Ekon,1,Ekonomi,268,Ekonomi Arus Baru,1,Furtasan Nasdem,1,Gas Melon Malingping,1,Gempa Banten2019,5,Gemuk,1,GMNI BAnten,1,Golkar,1,golkar banten,3,GP Ansor Banten,1,Gubernur WH,1,HAMAS,1,Hardi Madu,1,HAri santri,1,hari santri 2018,1,Headline,2,HGN 2018,1,Hikmah,20,HMI,1,Hukrim,725,Hukum,1,Humas Polres Serang,101,Humas Polres Serang Kota,52,HUT 18 Banten,1,Ijtima Ulama GPNF,1,Industri,8,iphone,1,iptek,22,IWO Banten,3,IWO Lebak,1,jOKOWI-mARIF amIN,1,Jubir Pancasila,1,Jurus Silat Kaserangan,1,Kab Lebak,1111,Kab Pandeglang,368,Kab Serang,526,Kab Serang Serang,1,Kab Tangerag,47,Kab Tangerang,190,Kab. Serang,6,Kab. Tangerang,2,Kab.Tangerang,5,Kabupaten Serang,11,Kabupaten Tangerang,29,Kahmi,1,KAHMI BAnten,1,Kalimaya Lebak,1,Kampanye damai,2,Kampus,7,Kantor Kemenag Pandeglang,1,Kanwil Kemenag Banten,41,Kapal Bosok Curug,2,Kapolda Banten,12,Karang Taruna,1,Kasepuhan Karang,1,Kebun teh Cikuya,1,Kec Panggarangan,4,Kec Anyer,2,Kec Banjarsari,3,Kec Baros,2,Kec Bayah,18,Kec Bojonegara,1,Kec Bojongmanik,1,Kec Cihara,10,Kec Cikande,1,Kec Cikesal,1,Kec Cikeusal,1,Kec Cikeusik,2,Kec Cileles,1,Kec Cilograng,2,Kec Cimanggu,1,Kec Cinangka,2,Kec Ciruas,1,Kec Curug,4,Kec Gunung Kaler,1,Kec Gunungsari,1,Kec Jatiuwung,1,Kec Kalang Anyar,1,Kec Karangtengah,1,Kec Kasemen,1,Kec Kibin,1,Kec Kopo,1,Kec Koroncong,1,Kec Kragilan,1,Kec Kresek,1,Kec Labuan,1,Kec Leuwidamar,1,Kec Malingping,16,Kec Mancak,2,Kec Mandalawangi,1,Kec Mauk,1,Kec Menes,1,Kec Pabuaran,5,Kec Pamarayan,5,Kec Petir,2,Kec Picung,1,Kec Rangkasbitung,1,Kec Saketi,1,Kec Sepatan,1,Kec Serang,1,Kec Sobang,2,Kec Sumur,2,Kec Taktakan,3,Kec Tanara,1,Kec Tirtayasa,3,Kec Tunjung Teja,1,Kec Walantaka,3,Kec Wanasalam,3,Kec Warunggunung,2,Kec. Cilograng,1,Kec. Maja,1,Kec. Saketi,1,Kec.Cilograng,1,Kec.Saketi,1,Kecamatan Pontang,1,Kejati Banten,1,Kemenag,13,Kemenag Cilegon,1,Kemenag Kota Serang,22,Kemenag Kota Tangerang,1,Kemenag Lebak,6,Kemenag Pandeglang,1,Kemenag Tangsel,1,kesehatan,96,Keu dan Bank,2,Khazanah,37,Kiprah,49,kirab satu negeri,1,KNPI,4,KNPI Banten,27,KNPI Cilegon,10,KNPI Kab Serang,14,KNPI Kota Cilegon,1,KNPI KOta Serang,36,KNPI Kota Tangerang,1,KNPI Lebak,12,KNPI Pandeglang,14,KNPI Tangerang,10,KNPI Tangsel,7,Kodim 0601/Pandeglang,27,Kodim 0602/Serang,12,Kodim 0603/Lebak,5,Kodim Lebak,4,kodim serang,2,Komunitas Bela Indonesia,2,Koni Kota Serang,1,konomi,1,kopassus,1,Koperasi,2,Koramil 0223/Pontang,1,Koramil 0314/Panggarangan,1,Korem 064/my,68,Kota Cilegon,101,Kota Serang,965,Kota Seranng,1,Kota Tagerang,5,Kota Tangerang,175,Kota Tangerang Tangerang,1,Kota Tangerang Selatan,9,Kota Tangsel,64,Kotas Serang,1,KotaTangerang,5,KP3b,39,KPU KOta Serang,3,Kpud lebak,1,KTP Tercecer,1,Kumala,2,Lampung,3,Lapindo,1,lebak,1136,Lebak Smart Tax,1,legislatif,1,Lingkungan Hidup,1,Lion air,1,lmnd kota serang,1,LMND sERANG,1,lmpi kota serang,1,Madrasah Cigemuk,1,Madrasah DIniyah,1,Madrasah Kota Serang,1,Madu Cingagoler,1,Malingping,1,Menag Lukman,1,menpan RB,1,Mesjid Agung kota Serang,2,Muhamad Ilham,1,NasDem,15,Nasdem Kota Serang,2,Nasdem Lebak,2,nasional,442,Ninja Banten Selatan,1,Nusantara,46,Operasi Mantap Brata Kalimaya 2018,2,opini,45,Pakta Integritas Prabowo,1,PAN Banten,1,pandeglang,220,Pangdam III/Siliwangi,1,Parlemen,85,Partai Bulan Bintang,2,Partai Demokrat,1,Partai Gerindra,3,Partai Golkar,6,Partai Nasdem,2,Partai PKB,1,Pasar,2,Patia,1,PC PMII Lebak,2,PCNU Lebak,1,PDIP Banten,1,Pelabuhan,1,Pelabuhan Bakauheni,4,Pelabuhan Merak,16,Peluang,1,Pemilu2019,1,PemkaB Lebak,6,pemkot cilegon,1,Pemutakhiran mandiri,1,pendidikan,386,Pengusaha Malingping,1,Perbankan,7,Perda Diniyah,1,Persis Banten,1,Persit Korem,1,Perumahan Polda Banten,1,PGMI Cihara,1,Pilbu Serang,1,Pilbup Pandeglang,3,Pilbuptangerang,1,Pilkda Kab Serang2020,1,Pilpres2019,3,PKBM Melati Tigaraksa,1,PKS Banten,7,PMI Banten,1,PMI Malingping,1,PMII KOta Serang,1,PMII UNIBA Kota Serang,1,Polairud Banten,7,Polda Banten,404,Polda Banten Dirkrimsus Polda Banten,1,Polda Baten,1,Polda Lampung,20,Polek Tanahara,1,Polres Cilegon,44,Polres Kab Serang,8,Polres Kota Serang,1,Polres Lebak,61,Polres Metro Tangerang Kota,1,Polres Pandeglang,31,Polres Serang,156,polres serang kota,98,Polres Tangerang,4,Polres Tangsel,1,PolresSerang Kota,2,Polresta Bandarlampung,24,Polresta Serang,5,Polresta Tangerang,47,Polsek Bayah,12,Polsek Carenang,1,Polsek Cikande,2,Polsek Cikeusal,3,Polsek Cikeusik,1,Polsek Cilograng,5,Polsek Cipocok,4,Polsek Ciruas,5,Polsek Curug,2,Polsek Jawilan,1,Polsek Kopo,1,Polsek Kragilan,2,Polsek Kramatwatu,1,Polsek Maja,1,Polsek Malingping,6,Polsek Pabuaran,11,Polsek Pamarayan,1,polsek panggarangan,1,Polsek Patia,1,Polsek Petir,1,Polsek Pontang,2,Polsek Puloampel,1,Polsek Pulomerak,2,Polsek Rangkasbitung,1,Polsek Serang,1,Polsek Serang Kota,1,Polsek Tirtayasa,1,Polsek Walantaka,4,Polsek Walantakan,1,Polwan Polda Banten,1,Polwan Sabhara,1,Pontren Darul ulum,1,Pontren Riyadul Awamil,1,Pospeda,1,PPP Kota Serang,1,Prabowo Sandi,1,PT Mikwang,3,PUPR Banten,1,PWI Banten,2,Pwi Kab Serang,4,PWI Kab Tangerang,1,radiasi,2,Ragam,47,Ranmor,3,Relawan Kemanusiaan Banten,1,Revitalisasi Banten lama,2,Riyadul awamil,1,RSKM Cilegon,1,Sahabat Polisi,1,Samapta Polda Banten,1,Satbrimob Polda Banten,11,Satbrimobda Banten,12,Satlantas Polres Lebak,3,Satlantas Polres Pandeglang,1,Satlantas Polres Serang,5,Satlantas Polres Serang Kota,4,Satpol PP Lebak,1,Satreskrim Polres Pandeglang,2,Satreskrim Polresta Tangerang,1,Satreskrim Resmob Polresta Tangerang,1,Satresnarkoba Polres Cilegon,1,Satresnarkoba Polres Pandeglang,1,Satresnarkoba Polres Serang,4,Satresnarkrim Polres Serang Kota,1,Serang,1151,Serang Banten,47,Serang Hukrim,1,serang.Kota Serang,1,Seranng,1,SMAN 1 CIbadak,1,SMAN 13 Tangerang,1,smartphone,2,SMKN 1 Pulo Ampel,1,SMKN 9 Kota Tangerang.,1,Sorotan,2,Sosok,15,SPN Mandalawangi Kab Pandeglang,1,sRANG,1,STKIP Jawilan,1,STKIP Setia Budi,1,Suara Mahasiswa,94,tagerang,5,tangerang,448,Tangsel,14,TB Amri,1,teknologi,28,Teminal Cipocok,1,Terminal Cipocok,4,tidur,1,TNI,37,TNI-AL,1,TNI-POLRI,73,TPSA Cilowong,2,Tradisi siraman,1,Tsunami Anyer,84,Tsunami Selat Sunda,66,Uhen PPP,2,Ujung Kulon,1,UMKM,69,Unbaja Serang,1,Universitas Pelita Harapan.Christina Florensya Mandagi,1,Unma Banten,3,Unsera,1,Untirta,3,UPH Banten,47,UPH Jakarta,5,VESBanten,1,video,4,Wahidin Halim,1,Wakapolda Banten,2,Wirausaha,22,Wisata,1,Wisata Minat Khusus dan Petualangan,1,Xiaomi,1,Yonif 320/BP,1,
ltr
item
Berita Banten - Banten Ekspose: Sebuah Narasi Cerita dari Banyumas, Haruskah Dihakimi?
Sebuah Narasi Cerita dari Banyumas, Haruskah Dihakimi?
https://1.bp.blogspot.com/-bWhTo4OxpYo/XRAo7cli9zI/AAAAAAAAR6o/UlsfT-oXLUopB_dE36rYTvpsmrQ5H5ingCLcBGAs/s640/Kucumbu-Tubuhku-Indah.jpg
https://1.bp.blogspot.com/-bWhTo4OxpYo/XRAo7cli9zI/AAAAAAAAR6o/UlsfT-oXLUopB_dE36rYTvpsmrQ5H5ingCLcBGAs/s72-c/Kucumbu-Tubuhku-Indah.jpg
Berita Banten - Banten Ekspose
https://www.bantenekspose.com/2019/06/sebuah-narasi-cerita-dari-banyumas.html
https://www.bantenekspose.com/
https://www.bantenekspose.com/
https://www.bantenekspose.com/2019/06/sebuah-narasi-cerita-dari-banyumas.html
true
6064287794305037138
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share to a social network STEP 2: Click the link on your social network Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy