Kemarin, 700 Karyawan Chevron Pacific Indonesia Kena PHK
0 menit baca
Bantenekspose.com - Konfederasi Serikat Buruh Muslim
Indonesia (Sarbumusi) Chevron Pacific Indonesia di Provinsi Riau menyatakan
perusahaan multinasional tersebut mulai merealisasikan Pemutusan Hubungan Kerja
(PHK) bagi 700 karyawan terhitung 31 Maret 2016 akibat melemahnya harga minyak
dunia.
“Terhitung mulai hari Jumat (1/4) ada 700 orang secara
nasional tidak lagi bekerja di Chevron,” papar Ketua Sarbumusi Basis Chevron
Pacific Indonesia Riau, Nofel, di Pekanbaru, Jumat (1/4).
Nofel mendaku (klaim) bahwa total jumlah karyawan terkena
PHK perusahaan minyak dan gas bumi (migas) berasal dari Amerika Serikat
tersebut 700 orang, yang terdiri dari 500 karyawan berada di Kalimantan dan 200
pekerja di Riau.
Namun, pihaknya belum mendapatkan data konkret mengenai
jumlah karyawan terkena PHK di Chevron akibat melemahnya harga minyak dunia
sekitar dua tahun terakhir dan perampingan organisasi perusahaan itu.
Usia rata-rata para pekerja yang di-PHK oleh Chevron tersebut
masih berusia produktif dan memilki tanggungan hidup yakni isteri dan anak
karena mulai dari berusia 35 sampai 40 tahun ke atas.
“Seperti di Kalimantan, lebih banyak anak muda. Kalau di
Riau, kita lihat usia karyawan di PHK pada saat mendaftar jadi anggota
Sarbumusi, berusia di atas 40 tahun. Bagi mereka yang sudah punya niat ambil
PHK, maka sudah punya tempat pelarian,” terangnya.
“Tapi yang bermasalah sekarang, usia sudah 40 tahun. Dia
ambil itu PHK, tapi setelah itu dia menyesal. Dia mengambil bukan karena
pilihan, tetapi adanya keterpaksaan,” ucap Nofel.
Sarbumusi sangat menyanyangkan dengan sikap Chevron dinilai
tidak konsisten, sebab karyaman sudah termakan janji bagi yang tidak ambil
paket PHK, maka akan dipekerjakan kembali dalam organisasi perusahaan.
“Anehnya perusahaan sendiri tidak konsekuen. Mulanya
terdapat paket ditawarkan bersamaan dengan organisasi baru. Pada organisasi
lama, karyawan Chevro 6.500 orang, sedangkan organisasi baru hanya pakai 4.880
orang. Otomatis terdapat 1.600 orang kehilangan pekerjaan,” katanya.
Senior Vice President, Policy, Government, and Public
Affairs Chevron Indonesia, Yanto Sianipar sebelumnya mengatakan, perusahaan
migas itu kini tengah melakukan kajian terhadap semua model bisnis dan operasi.
